Sabtu, 06 Desember 2014

Biar Tuhan Geli

Dan aku juga ingin bermimpi serta berharap dengan sederhana, biasa sajaaa...
Aku merayu tuhan, ku buat tuhan geli dengan jemari-jemariku yang kutengadahkan atas-Nya dengan mulut bergeming meminta ini dan itu...
Biar... Biar tuhan geli....
Ini bukan tentang kecewaku... Tetapi; ini adalah harapan, juga ajakan...  Biar tidak ku lihat teman-temanku yang cantik cemberut... Ingin seperti ini, biar kita tidak seperti anak kecil yang mudah bertengkar....

Adalah bukan kelelahan ketika aku telah berpasrah. Bukan juga menyerah ketika aku hanya diam menengadah... Aku hanya perlu sejenak meninggalkan realita yang sedang terjadi, aku berusaha berbicara kepada ruh-ku. Ke-AKU-an-KU yang murni. Saya sedang tidak menganggap jiwa saya bukan sesuatu yang murni, aku pikir; kalian pun mengetahui; bahwa ketika ruh, jiwa, dan sosial telah bercengkrama maka kejujuran hati benar-benar pada titik kritisnya kehilangan kemurnian... Maka dari itu, aku butuh waktu merenung, mengevaluasi sebeberapa  waktu yang usai kulakoni. Mencari kebenaran. Ah, BUKAN... Nilai kebaran itu relatif. Tidak ada Nilai kebenaran benar yang mutlak, begitu juga pada nilai kebenaran salah juga tidak ada yang mutlak.
Emmm... Tetapi setidaknya, dalam rennungan yang aku berbincang pada ruh, membiarkan hati kecil mengungkap segala perasaan, aku bisa memisahkan antara yang benar, kurang benar, dan paling benar... Seperti itu pemisahannya...
Sehingga, setelah aku mengerti bahwa ternyata benar-benar tak ada sehal pun yang mutlak, aku bersikeras sejak itu juga, aku tidak ingin merasakan sesuatu dengan perasaan yang sangat; sangat sedih, sangat senang, sagat kecewa, dan sangat sangat yang lain...
Bagiku, perasaan biasa adalah roma nuansa cuaca yang amat istimewa...
Bagaimana tidak?
Sayang... anda belum tahu ya?
Kemarilah, telusuri jejak rasa yang aku tinggalkan lewat huruf yang berserak ini...
Aku senang dengan rasa "Biasa Saja" tidak ada gelisah bilamana suatu perasaan harus berganti pada cuaca di lain musim...
Anda merasakan apa? Sedih bilamana anda kecewa?
Untuk apa anda sedih...?
JANGAN!
Saya sudah pernah sedih, rasanya tidak enak, bahkan kadang bikin mata bengkak...
Anda merasakan apa? Senang jika anda beruntung?
Untuk apa senang???
JANGAN!
Saya sudah pernah senang, ternyata nanti juga perasaannya ganti yang lain...
JANGAN...

Aku sudah pernah mendikte Tuhan... "Tuhan, beri aku kebahagiaan di dunia dan Akhirat..."
Apa?
Tetap saja segala perasaan itu ada, hidup ini KOMPLIT, sist.... Tidak bisa kita pesan  HIDUP yang kelas VIP... atau pesan yang seperti apalah, NDAK BISA, BOY.
Aku kira Allah tidak mengijabahi aku...
Eh... aku tersenyummm... :-)
Allah bukan tidak mengijabahi aku...
Coba lihat... apa aku sediiih? TIDAK niiiih...
Begini teman, aku punya keinginan sederhana... Aku ingin benar-benar bisa merasakan biasa saja.
Ketika aku mendapat beasiswa, katakanlah, aku tidak ingin merasa bahagia apalagi terlalu bahagia, sekedar ingin dalam perasaan BIASA SAJA. Sebab, satu detik kemudian, sejam, sehari, beberapa waktu setelahnya, belum tentu kita masih beruntung, bisa saja kita menjadi apes...
Aman kan, ketika bahagia datang kita tetap BIASA SAJA? jadi kita tidak kecewa gitu loh...
Begitu juga ketika kita gagal; katakanlah gagal dalam pertandingan, cobalah merasa BIASA SAJA, jangan sedih... Toh beberapa waktu kemudian perasaan itu akan berganti...
Ini Hanya karena aku belum menemukan jawabannya, UNTUK APA SIH BAHAGIA?
Jadi, merasa BIASA SAJA itu amatlah AMAN, kawan.

Mungkin, sedikit-sedikit aku telah bisa menerapkannya... Sehingga aku menjadi terkesan cuek-bebek di mata orang lain...
BIASA SAJA juga ketika orang-orang menilai demikian. Apa saya harus menjelaskan bahwa sebenarnya saya tidak cuek?
Aaaahhh... Tidak penting... Nanti, suatu saat juga akan tahu, kalo tidak sempat tahu? yaaa sudah, aku tidak rugi dianggap demikian....

Sama halnya dalam bertindak... Cobalah bertindak BIASA SAJA...
Dulu... dulu sekali, sebelum hal ini aku renungkan...
Aku adalah seseorang yang was-was, supper pesimis... Aku ingin melakukan begini, akh.... Gimana? aku takut nanti si A marah... Ah, gak apa-apa ah... toh aku masih punya temen yang lain. Loh, tapi kalo yang lain di pengaruhi sama si A.... duuuh... takuuut... Nggak ah, aku nggak jadi aja...
Selalu demikian, ada rasa takut sebelum bertindak... BODOH sekali bukan?
Memang benar; sebelum bertindak kita harus menimbang. tapi; bukan tentang rasa takutnya...
Adalah tentang manfaat dan madhorotnya... Lalu; pikirkan solusinyaaaa...
Sekarang, kapan kita akan berbuat, jika ketika kita mengonsep tindakan kita, kita juga malah sok tau pada respon orang lain????
Kapan kita akan memulai perubahan super kita???
Mari..... BUNUH... BUNUH... BUNUH... RASA ITU...
Mari kita tanam jiwa yang baru, yang tangguh, yang bertanggung jawab, yang cerdas... dan; YANG BIASA SAJA...

Kembali ke inti...
Aku buang rasa takut itu, aku cari-cari bayang-bayang indah yang mengundang percaya diriku...
Aku pun berani bertekad.... Aku tidak nekat.
Saya tidak lagi memikirkan orang lain... Egois? terserah dikata apa...
Aku rasa, setiap aku bertindak, aku telah menimbang baik-buruknya.. Aku lakukan itu ketika memang harus aku lakukan, aku bertanggung jawab ketika orang lain ternyata ada yang dirugikan....
Aku hanya berusaha tuli.. Tuli dari mereka yang iri... Menyalah-nyalahkan aku, menjelek-jelekan aku...
Tapi untuk apa aku menyerah.... Dibilang salah pun tak masalah, orang dewasa pasti bisa berpikir lebih logis... Jadi, saya tidak perlu khawatir pada penilaian orang lain...
Dibilang jelek pun aku tak akan mundur... Aku teruskan saja prosesku, toh ini akan berpengaruh pada diri saya... Jika anda terpengaruh, kena imbasnya; ok... saya ganti rugi semuanya...
bukan aku sombong...
bukan benar-benar aku telah tegar,
bukan benar-benar aku telah sukses...
Aku ini sedang berproses,
menjadi aku yang aku impikan...
Aku hanya ingin buta dari mereka yang menatapku benci...
Aku hanya ingin tuli, dari mereka yang mengguncingku...
Aku hanya ingin manti rasa, pada mereka yang menfitnah aku...
Aku hanya ingin amnesia, pada mereka yang melupakan aku...
Tapi satu hal yang perlu kalian tahu.... Tak sampai hati kulakukan itu...
Sebab, semua itu tertuju hanya pada watak-watak mereka, tak sampai pada diri mereka...
Siapapun orangnya, aku menyayangi semuanya... Termasuk pada jiwa yang wataknya paling aku benci....
Aku pernah amat kecewa, itu dulu... Sebelum aku bisa untuk BIASA SAJA...
Dan kini aku mulai terbiasa... Menjalani dan menerima takdir dengan Biasa Saja...
Percaya padaku, dengan begitu kau akan mudah bersyukur pada Sang Pemberi Ni'mat... Insya Allah.

Dan aku juga ingin bermimpi serta berharap dengan sederhana, biasa sajaaa...
Aku merayu tuhan, ku buat tuhan geli dengan jemari-jemariku yang kutengadahkan atas-Nya dengan mulut bergeming meminta ini dan itu...
Biar... Biar tuhan geli....

Jumat, 05 Desember 2014

Perhitungan Konversi Tahun (Masehi ke Hijriah)

Sebenarnya saya ingin mencatat materi ini ke dalam blog sejak lama, tapi saya pikir untuk apa si? Namun, pesimisku hilang setelah kemarin, malam ahad tanggal 7 shofar atau tanggal 29 november 2014, saya meng-update status Facebook saya. Dalam status tersebut, saya mengucapkan rasa syukur saya karna pada hari itu saya ulang tahun ke-20 menurut kalender hijriahnya...
Dan alhamdulillah, dari update-an status tersebut saya mendapatkan motivasi dari saudara-saudari saya untuk bertekad mempublikasikan materi ini yang saya dapat dari kakak kelas supaya mengalir berkah dan manfa'atnya...
Setelah saya meng-update status demikian, beberapa teman menginbok saya untuk meminta tolong dihitungkan konversi tanggal lahir mereka, lalu dengan hitungan detik saya pun memberikan jawaban yang dibenarkan oleh mereka.
Bukan, bukan saya hebat. Saya tidak bisa menghitung cepat. Hanya saja materi tahwil sanah ini sudah saya aplikasikan kedalam calkulator saya, si CASIO FX-7400GII. Sehingga saya bisa menjawab pertanyaan teman-teman saya dengan cepat...
Saya hanya berpikir, jika mereka merasa ingin tahu tentang tanggal lahir mereka dalam kalender Hijriah, pasti mereka juga ingin tahu pula tentang perhitungannya. Dari situlah saya ingin segera mempublish materi ini. Supaya teman-teman juga bisa menghitungnya sendiri...
Senang sekali rasanya jika teman-teman merespon baik tiap sesuatu yang berbau falak itu tercium.
Semoga, teman-teman bisa memahami dan menghitungnya dengan benar...
SELAMAT MENCOBA, JANGAN MENYERAH.
KITA BISA, KITA HEBAT... :-)
Konversi Tahun (Tahwil Sanah)-Masehi ke Hijriah
Prosesnya tidak begitu panjang lhooo... Cuman, ini per proses perhitungannya saya bleberkan asal-usulnya.... heheheee...
Contoh; tanggal 14 februari 2014
Nah, jika kita meng-konversikan Tahun 2014, maka yang kita hitung adalah tahun TAM-nya...
Lihat gambar dibawah ini, yaa... :-)
Dari Langkah di atas, kita sudah mendapatkan hasil konversi tahun 2014M, yaitu 1435 H. Yang belum kita dapatkan adalah Tanggal, Bulan, Hari dan pasarannya.... Mari kita lanjutkan ke langkah berikut...;

Dari langkah diatas, kita telah mendapatkan 3 point penting. Yaitu; Tanggal (13), hari (jum'at), dan bulan (Robi'ul Akhir, yang didapat dari angka 102).
Yang belum kita dapatkan adalah hari pasarannya... Maka kita masih harus melakukan satu langkah lagi;


Yeeeeee.... SELESAIiiii.... :-)
Jadi, Konversi Masehi ke Hijriah tanggal 14 Februari 2014 adalah tangggal 13 Robi'ul Akhir, yaitu Hari Jum'at Wage....

Nah, berikut adalah tabel-tabel yang perlu teman-teman perhatikan; 

Untuk menentukan Bulan, digunakan tabel dibawah ini;








Untuk menentukan hari, maka digunakan tabel berikut;

 
    Jadi, apabila Hasil sisa  508.264 ÷   7 adalah  1  maka berarti merupakan hari Jum’at. Demikian juga apabila hasil sisanya 2, berarti hari Sabtu, dan seterusnya.


Untuk menentukan Hari pasarannya adalah dengan tabel diberikut;
  

     Jadi, apabila hasil sisa dari pembagian 508.264 ÷  5 adalah 4, maka berarti pasarannya adalah Wage. Apabila sisanya 5/0, berarti Kliwon, dan seterusnya.

     Begitulah cara perhitungan konversi tahun dari Masehi ke Hijriah... Semoga materi ini bisa di pahami teman-teman dengan benar, apabila ada kesalahan; mohon koreksinya yaaaa?
     Semoga berkah dan manfaat yaaa...

TETAP SEMANGAT, DAN SELALU CERIA YA, KAWAaaaaNnnn....