Dan aku juga ingin bermimpi serta berharap dengan sederhana, biasa sajaaa...
Aku
merayu tuhan, ku buat tuhan geli dengan jemari-jemariku yang
kutengadahkan atas-Nya dengan mulut bergeming meminta ini dan itu...
Biar... Biar tuhan geli....
Ini bukan tentang kecewaku... Tetapi; ini adalah harapan, juga
ajakan... Biar tidak ku lihat teman-temanku yang cantik cemberut...
Ingin seperti ini, biar kita tidak seperti anak kecil yang mudah
bertengkar....
Emmm... Tetapi setidaknya, dalam rennungan yang aku berbincang pada ruh, membiarkan hati kecil mengungkap segala perasaan, aku bisa memisahkan antara yang benar, kurang benar, dan paling benar... Seperti itu pemisahannya...
Sehingga, setelah aku mengerti bahwa ternyata benar-benar tak ada sehal pun yang mutlak, aku bersikeras sejak itu juga, aku tidak ingin merasakan sesuatu dengan perasaan yang sangat; sangat sedih, sangat senang, sagat kecewa, dan sangat sangat yang lain...
Bagiku, perasaan biasa adalah roma nuansa cuaca yang amat istimewa...
Bagaimana tidak?
Sayang... anda belum tahu ya?
Kemarilah, telusuri jejak rasa yang aku tinggalkan lewat huruf yang berserak ini...
Aku senang dengan rasa "Biasa Saja" tidak ada gelisah bilamana suatu perasaan harus berganti pada cuaca di lain musim...
Anda merasakan apa? Sedih bilamana anda kecewa?
Untuk apa anda sedih...?
JANGAN!
Saya sudah pernah sedih, rasanya tidak enak, bahkan kadang bikin mata bengkak...
Anda merasakan apa? Senang jika anda beruntung?
Untuk apa senang???
JANGAN!
Saya sudah pernah senang, ternyata nanti juga perasaannya ganti yang lain...
JANGAN...
Aku sudah pernah mendikte Tuhan... "Tuhan, beri aku kebahagiaan di dunia dan Akhirat..."
Apa?
Tetap saja segala perasaan itu ada, hidup ini KOMPLIT, sist.... Tidak bisa kita pesan HIDUP yang kelas VIP... atau pesan yang seperti apalah, NDAK BISA, BOY.
Aku kira Allah tidak mengijabahi aku...
Eh... aku tersenyummm... :-)
Allah bukan tidak mengijabahi aku...
Coba lihat... apa aku sediiih? TIDAK niiiih...
Begini teman, aku punya keinginan sederhana... Aku ingin benar-benar bisa merasakan biasa saja.
Ketika aku mendapat beasiswa, katakanlah, aku tidak ingin merasa bahagia apalagi terlalu bahagia, sekedar ingin dalam perasaan BIASA SAJA. Sebab, satu detik kemudian, sejam, sehari, beberapa waktu setelahnya, belum tentu kita masih beruntung, bisa saja kita menjadi apes...
Aman kan, ketika bahagia datang kita tetap BIASA SAJA? jadi kita tidak kecewa gitu loh...
Begitu juga ketika kita gagal; katakanlah gagal dalam pertandingan, cobalah merasa BIASA SAJA, jangan sedih... Toh beberapa waktu kemudian perasaan itu akan berganti...
Ini Hanya karena aku belum menemukan jawabannya, UNTUK APA SIH BAHAGIA?
Jadi, merasa BIASA SAJA itu amatlah AMAN, kawan.
Mungkin, sedikit-sedikit aku telah bisa menerapkannya... Sehingga aku menjadi terkesan cuek-bebek di mata orang lain...
BIASA SAJA juga ketika orang-orang menilai demikian. Apa saya harus menjelaskan bahwa sebenarnya saya tidak cuek?
Aaaahhh... Tidak penting... Nanti, suatu saat juga akan tahu, kalo tidak sempat tahu? yaaa sudah, aku tidak rugi dianggap demikian....
Sama halnya dalam bertindak... Cobalah bertindak BIASA SAJA...
Dulu... dulu sekali, sebelum hal ini aku renungkan...
Aku adalah seseorang yang was-was, supper pesimis... Aku ingin melakukan begini, akh.... Gimana? aku takut nanti si A marah... Ah, gak apa-apa ah... toh aku masih punya temen yang lain. Loh, tapi kalo yang lain di pengaruhi sama si A.... duuuh... takuuut... Nggak ah, aku nggak jadi aja...
Selalu demikian, ada rasa takut sebelum bertindak... BODOH sekali bukan?
Memang benar; sebelum bertindak kita harus menimbang. tapi; bukan tentang rasa takutnya...
Adalah tentang manfaat dan madhorotnya... Lalu; pikirkan solusinyaaaa...
Sekarang, kapan kita akan berbuat, jika ketika kita mengonsep tindakan kita, kita juga malah sok tau pada respon orang lain????
Kapan kita akan memulai perubahan super kita???
Mari..... BUNUH... BUNUH... BUNUH... RASA ITU...
Mari kita tanam jiwa yang baru, yang tangguh, yang bertanggung jawab, yang cerdas... dan; YANG BIASA SAJA...
Kembali ke inti...
Aku buang rasa takut itu, aku cari-cari bayang-bayang indah yang mengundang percaya diriku...
Aku pun berani bertekad.... Aku tidak nekat.
Saya tidak lagi memikirkan orang lain... Egois? terserah dikata apa...
Aku rasa, setiap aku bertindak, aku telah menimbang baik-buruknya.. Aku lakukan itu ketika memang harus aku lakukan, aku bertanggung jawab ketika orang lain ternyata ada yang dirugikan....
Aku hanya berusaha tuli.. Tuli dari mereka yang iri... Menyalah-nyalahkan aku, menjelek-jelekan aku...
Tapi untuk apa aku menyerah.... Dibilang salah pun tak masalah, orang dewasa pasti bisa berpikir lebih logis... Jadi, saya tidak perlu khawatir pada penilaian orang lain...
Dibilang jelek pun aku tak akan mundur... Aku teruskan saja prosesku, toh ini akan berpengaruh pada diri saya... Jika anda terpengaruh, kena imbasnya; ok... saya ganti rugi semuanya...
bukan aku sombong...
bukan benar-benar aku telah tegar,
bukan benar-benar aku telah sukses...
Aku ini sedang berproses,
menjadi aku yang aku impikan...
Aku hanya ingin buta dari mereka yang menatapku benci...
Aku hanya ingin tuli, dari mereka yang mengguncingku...
Aku hanya ingin manti rasa, pada mereka yang menfitnah aku...
Aku hanya ingin amnesia, pada mereka yang melupakan aku...
Tapi satu hal yang perlu kalian tahu.... Tak sampai hati kulakukan itu...
Sebab, semua itu tertuju hanya pada watak-watak mereka, tak sampai pada diri mereka...
Siapapun orangnya, aku menyayangi semuanya... Termasuk pada jiwa yang wataknya paling aku benci....
Aku pernah amat kecewa, itu dulu... Sebelum aku bisa untuk BIASA SAJA...
Dan kini aku mulai terbiasa... Menjalani dan menerima takdir dengan Biasa Saja...
Percaya padaku, dengan begitu kau akan mudah bersyukur pada Sang Pemberi Ni'mat... Insya Allah.
Dan aku juga ingin bermimpi serta berharap dengan sederhana, biasa sajaaa...
Aku merayu tuhan, ku buat tuhan geli dengan jemari-jemariku yang kutengadahkan atas-Nya dengan mulut bergeming meminta ini dan itu...
Biar... Biar tuhan geli....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar