Minggu, 18 Mei 2014

Roshdul qiblah



Roshdul qiblah
MARI MELURUSKAN KIBLAT...



Pada tanggal 27/28 Mei 2014 Matahari akan berada pada posisi yang sangat menguntungkan bagi umat islam. Pada hari tersebut, Matahari berada di posisi tepat di atas kiblat atau ka’bah. Hari itu akrab disebut  istiwa’ a'zzam, yakni saat Matahari berkedudukan di titik istiwa’ utama (zenith). Namun, fenomena tersebut juga populer dengan sebutan rashdul qiblat. (Baca: Matahari Tepat di Atas Mekkah, Cek Arah Kiblat 14-16 Juli!)
 
"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka'bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan." (QS. Al-Baqarah : 149)

“Baitullah ( Ka'bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (Makkah) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi Timur dan Barat dari umatku” (HR. Al-Baihaqi)

“Jika kamu mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu ruku’ sampai sempurna, kemudian i’tidal sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, kemudian duduk di antara dua sujud sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian itu setiap rekaat.” (HR. Abu Hurairah)

Arah kiblat bagi umat islam menjadi sesuatu yang sangat penting, sebab dalam melaksanakan sholat salah satu yang menjadi syarat sahnya sholat adalah menghadap kiblat. Mengingat pentingnya hal tersebut, maka umat Islam pun bersemangat belajar dan melakukan penelitian tentang bagaimana menentukan arah kiblat yang tepat dan benar…

Berdasarkan kebiasaan yang berkembang di masyarakat, terdapat beberapa kaidah yang sering digunakan untuk mengetahui ketepatan arah kiblat. Diantaranya adalah menggunakan kompas kiblat, kompas sajadah atau peralatan canggih seperti pesawat GPS dan theodolite. Kini, melalui teknologi penginderaan jarak  jauh yang disediakan cuma-cuma oleh Google via internet menggunakan software Google Earth atau secara online disediakan oleh situs-situs seperti Qibla Locator atau RHI Qibla Locator  yang memanfaatkan fasilitas Google Map Api (GMA) kita dengan mudah dapat mengetahui arah kiblat sebuah bangunan masjid secara visual dan jelas. Namun demikian penggunaan kaidah-kaidah tersebut sering terkendala beberapa masalah.
 Kompas belumlah dikatakan sebagai alat ukur yang presisi. Sebab dalam penggunaannya, kompas sering mengalami kesalahan. Kesalahan tersebut berupa penyimpangan jarum kompas baik oleh variasi magnetik secara global maupun atraksi magnetis secara lokal oleh logam di sekitarnya. Belum lagi skala kompas biasanya terlalu kasar. Sementara, penggunaan GPS dan theodolit untuk mengukur arah kiblat walaupun bisa mendapatkan hasil yang lebih presisi namun dalam prakteknya kedua peralatan tersebut tidak mudah didapatkan karena harganya yang cukup mahal. Walaupun Google Earth maupun fasilitas qibla locator secara online dapat membantu mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat akurat, namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di lapangan dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.


Lantas apakah bisa mengukur arah kiblat secara presisi dengan biaya yang murah? 
 


Jawabannya adalah BISA! Yaitu dengan menggunakan fenomena astronomis yang terjadi pada hari yang disebut sebagai yaumul rashdul qiblat atau hari meluruskan arah kiblat yaitu hari saat saat Matahari tepat di atas Ka'bah. Fenomena yang terjadi 2 kali selama setahun ini dikenal juga dengan istilah Transit Utama atau Istiwa A'dhom.







 Disamping merupakan contoh hasil pengakuratan arah kiblat pada suatu masjid dengan menggunakan bayang matahari pada yaumur roshdul qiblah...
Pengukuran kiblat pada yaumur roshdul qiblah dipercaya akurasinya sangatlah kuat. Lain halnya dengan alat-alat instan modern yang tersedia pada masa dewasa ini yang masih memerlukan koreksi.
Hal ini bisa difahami sebab akibat gerakan semu Matahari yang disebut sebagai gerak tahunan Matahari. Ini diakibat selama Bumi beredar mengelilingi Matahari sumbu Bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun Matahari terlihat mengalami pergeseran antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Pada saat nilai azimuth Matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa A'dhom yaitu melintasnya Matahari melewati zenit lokasi setempat.

Demikian halnya Ka'bah yang berada pada koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT dalam setahun juga akan mengalami 2 kali peristiwa Istiwa A'dhom yaitu setiap tanggal 27/28 Mei sekitar pukul 12.18 waktu setempat dan 15/16 Juli sekitar pukul 12.27 waktu setempat. Jika waktu tersebut dikonversi maka di Indonesia peristiwanya terjadi pada 27/28 Mei pukul 16.18 WIB dan 15/16 Juli pukul 16.27 WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari tepat di atas Ka'bah tersebut maka umat Islam yang berada jauh dan berada pada jarak kurang dari seperempat keliling Bumi dapat menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan Matahari.

Istiwa, dalam bahasa astronomi adalah transit yaitu fenomena saat posisi Matahari melintasi di meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam wilayah Zona Tropis yaitu wilayah sekitar garis Katulistiwa antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS posisi Matahari saat istiwa selalu berubah, terkadang di Utara dan disaat lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat tertentu sebuah tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa A'dhom yaitu saat Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di lokasi tersebut.

Teknik penentuan arah kiblat pada hari Rashdul Qiblat sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga sudah banyak yang menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa A'dhom tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat yang benar.
Satu hal penting yang harus kita perhatikan adalah ketepatan JAM yang kita gunakan hendaknya sudah terkalibrasi dengan tepat. Untuk mengetahui standar waktu yang tepat bisa digunakan tanda waktu saat Berita di RRI, layanan telpon 103 atau menggunakan jam  atom yang disediakan oleh layanan internet.

Penentuan arah kiblat menggunakan fenomena ini hanya berlaku untuk tempat-tempat yang pada saat peristiwa Istiwa A'dhom dapat secara langsung melihat Matahari. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu Matahari sudah terbenam seperti Wilayah Indonesia Timur (WIT) praktis teknik ini tidak dapat digunakan. Maka ada fenomena lain yang dapat digunakan oleh daerah-daerah tersebut sehingga dapat mengetahui arah kiblat secara presisi. Fenomena itu adalah saat Matahari berada tepat di bawah Ka'bah yaitu saat Istiwa A'dhom terjadi di titik Nadir (Antipode) Ka'bah yang terjadi pada setiap tanggal 13 Januari dan 27/28 November.

Nah, pertanyaannya, bagaimana Matahari bisa mengalami situasi seperti itu?

Kuncinya terletak pada Bumi sendiri. Sebagai imbas dari masa lalunya yang demikian menakjubkan, terutama setelah terjadinya hantaman protobumi dengan prototheia di masa bayi tata surya, poros Bumi kita tak lagi tegak lurus, tetapi termiringkan.

Cepatnya rotasi Bumi yang membuat area di sekeliling khatulistiwa menggelembung, sementara kawasan kutub-kutubnya memepat membuat Bumi turut diganggu oleh gravitasi planet-planet tetangga, khususnya si terang Venus dan si raksasa gas Jupiter. Akibatnya, kemiringan sumbu rotasi Bumi pun berubah-ubah secara gradual, yakni antara 22,1 hingga 24,5 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika.

Perubahan ini memiliki periodisitas 45.000 tahun dan menjadi bagian siklus Milankovitch yang turut mengontrol perubahan iklim Bumi hingga ke titik ekstremnya.

Besarnya kemiringan sumbu Bumi saat ini adalah 23,44ᵒ dan dalam 9.800 tahun ke depan akan terus menurun hingga mencapai nilai terendahnya, yakni 22,1ᵒ . Saat ini, kutub utara langit, yakni proyeksi sumbu rotasi bumi di langit bagian utara, mengarah tepat ke bintang Polaris di gugusan bintang Ursa Minor sehingga Polaris pun mendapat kehormatan menyandang status bintang kutub.

Namun, dalam 10.000 tahun mendatang kutub utara langit akan bergeser sedemikian rupa sehingga bakal sangat berdekatan dengan bintang al-Fawaris atau Rukh (delta Cygni) di gugusan bintang Cygnus. Pergeseran bintang kutub ini merupakan konsekuensi dari miringnya sumbu Bumi yang masih ditambah dengan gangguan gravitasi Venus dan Jupiter.



Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa A'dhom :
  1. Tentukan masjid/musholla/langgar/rumah/ tempat lain yang akan diluruskan arah kiblatnya.
  2. Siapkan tongkat lurus atau benang berbandul sepanjang 1-2 m serta arloji yang sudah dikalibrasi dengan TV, radio atau telpon “103".
  3. Cari lokasi yang datar di dalam/sekitar masjid/musholla/langgar/rumah/tempat lain yang masih mendapatkan penyinaran matahari antara jam 16.00 – 16.30 WIB.
  4. Pasang tongkat secara tegak lurus dengan bantuan pelurus berupa benang berbandul atau gantung bandul di lokasi tersebut beberapa menit sebelum peristiwa Istiwa A’dham terjadi.
  5. Tunggu sampai saat Istiwa A’dham terjadi yaitu Ahad, 28 Mei 2012 pukul 16:18 WIB atau Ahad, 16 Juli 2013 pukul 16:27 WIB. Amatilah bayangan tongkat saat itu dan berilah tanda dengan menggunakan spidol atau benang kasur yang dipakukan atau alat lain yang dapat membuat garis lurus. Garis itu adalah arah kiblat yang benar.
  6. Gunakan benang, sambungan pada tegel lantai, atau teknik lain yang dapat meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita ukur sebenarnya adalah garis shaff yang posisinya tegak lurus (90°) terhadap arah kiblat. Maka setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk membuat garis shaff dapat dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan bantuan benda-benda yang memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek atau kertas karton tebal.
  7. Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Semoga cuaca cerah.
Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita, ibadah shalat yang kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih dikabulkan. Amin.
 

Kamis, 08 Mei 2014

ALAM SEMESTA

ALAM SEMESTA-LANGIT MALAM




LANGIT MALAM
Ketika kita berbicara mengenai langit, pastilah yang tergambar seputar hamparan luas yang menjadi batas pandang kita. Layaknya kanvas, tercoret warna biru dan putih yang diteringa cahaya Matahari di siang hari. Layanya lukisan pada gelaran kanvas lebar, tergambarkan titik-titik bercahaya pada kanvas hitam yang bergemerlapan akan rona cahaya bintang dan rembulan. Pada tatanan bintang yang terhambur seakan acak tak beraturan, seperti tanpa makna, bagai sekedar manic-manik langit dimalam gelap. Padahal, jika kita amati bintang-bintang yang tercecer tak rapi itu kemudian kita tarik garis penghubung untuk menghubungkan antara yang satu pada yang lain, bintang-bintang itu bisa membentuk gambar atau sering kita sebut dengan Rasi Bintang. Iya, Rasi Bintang, nama yang kita berikan pada pola yang dibentuk oleh cahaya bintang terang, yang dapat membantu kita menemukan arah di langit malam. Rasi bintang ini terlihat tidak pernah berubah sejak para astronom pertama kali mulai serius mempelajari angkasa sekitar 5.000 tahun yang lalu. Juga sepertinya tidak akan berubah selama beberapa millennia ke depan.

RASI BINTANG
Langit malam dipenuhi bintang-bintang yang dapat membingungkan ketika dilihat pertama kali. Tetapi jika mata kita mulai terbiasa dengan suasana gelap, maka dapat kita perhatikan bahwa terdapat beberapa bintang yang lebih terang dari bintang yang lainnya. Didalam pikiran anda, anda dapat membayangkan garis yang menghubungkan bintang-bintang terang tersebut sehingga membentuk pola-pola yang dapat dikenali dikemudian hari. Pola yang dibentuk oleh bintang terang inilah yang disebut RASI BINTANG. Pola-pola itu dapat memudahkan penyelidikkan tentang langit malam.
Para astronom zaman sekarang mengenali adanya 88 rasi bintang yang berbeda (lebih banyak dari yang dikenal pada zaman dahulu). Setiap rasi bintang mengacu tidak hanya pada bintang-bintang terang yang membentuk rasi bintang, tetapi juga pada daerah tertentu di langit dan semua bintang yang termasukdi dalamnya. Diantara satu rasi bintang disekitarnya terdapat perbatasan yang sangat jelas.
Karena rasi bintang tidak berubah seiring waktu, kita menganggap tempat mereka tetap sama di langit (seperti halnya anggapan nenek moyang kita), atau setidaknya bergerak bersamaan di ruang angkasa dalam satu kelompok. Tidak satu pun yang benar dari dua anggapan ini. Dengan beberapa pengecualian, bintang-bintang pada pola rasi bintang tidak saling berhubungan dan sebenarnya berada jauh sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Alasan mengapa kita dapat melihatnya bersama-sama dalam satu rasi bintang hanyalah karena mereka kebetulan berada dalam arah yang sama di ruang angkasa.[1]




[1] Rpbbin Kerrod, Astronomi, hal 46-47, Jakarta, Erlangga

PUISI

PUISI



KETIKA ITU
Saat kau ada, adalah jauh dari hari ini
Saat kau bahagia, adalah jauh dari kepedihan ini
Saat kau tertawa, adalah jauh dari tangis ini
Saat kau berlari, adalah jauh dari kelumpuhan ini
Saat kau bercerita, adalah jauh dari kebisuan ini
Saat kau ada, adalah saat kita berdua
Menumpas duka, menarik bahagia
Menutup asa, meraih cita
Menyapu lara, menyambut suka
Saat kita bahagia, adalah saat kau ada
Saat kita bersama…
Ketika itu…
Sebelum jauh kau menginap dalam surga…


Bahira Zahra
18;33 (25-09-2011)


Sesekedar-Ku
Aku ingin, di bawah alam dalam malam ini,
aku adupadukan segala rasa
Yang bermuara dari dalam dada
Di relung palung terdalam sukmaku.
Yang dalam cerita,
Kita ada dalam selubung asmara…
Malam menyambut, mempersilahkan.
Ia berikan cahaya anggun sang bintang,
Wakilkan pilau lilin
Kemudian, disempurnakannya dengan rembulan…
Nampaklah begitu roman.
Oh, aku masih dipersimpangan.
Kerinduan ini seakan tak bertuan.
Bertahta tak kunjung punah.
Jarum jam memanahku.
Membunuhku…
Beri pertanda bahwa harus segera aku buang harapan.
Harapan untuk bisa temukan sempat bertatapan.
Argh… Aku tak mau kalah.
Jika sudah begini…
Kulayarkan gejolakku ketepian dermaga hayal
Namun…
Harapanku tak kunjung hilang
Diterjang jahatnya ombak kehidupan
Tiga panah dalam kantung bulat itu
Terus berlari, menacap pada angka-angka
yang selalu berbaris rapi
Kadang aku tersungging
Panah itu berputar,
mampir pada halaman angka-angaka
Sampai panah yang lain bertamu
Kemudian panah yang lainnya berlalu
Berpindah kelain tuan angka
Aku ingin mendekat,
Tanpa panah yang mengejarku berlari
Sayang, aku selalu terhentikan.
Perjalananku
Menjadikanku lumpuh dan bisu…
Diamku bukan berarti tak berkata
Sukmaku berteriak memanggilmu
Ku kabarkan padamu,
Dalam palung hati ini ada rindu
Percayalah,
Hanya untukmu ku persembahkan…
Sebilah rindu yang luka
Berdarah-darah tersayat panah kehidupan
Bila rindu ini tak sesempurna dulu
Saat baru saja ia datang
Biarkan dia beristirahat di istana hatimu,
Sampai ia sembuh…
Beserta itu, kasih dan sayang
Biarkan berlabuh…
Kupersembahkan gelap selepas senja pulang…

Bahira Zahra
18;59 (13-09-2012)