Roshdul qiblah
MARI MELURUSKAN KIBLAT...
Pada tanggal 27/28 Mei 2014 Matahari akan berada pada posisi yang sangat
menguntungkan bagi umat islam. Pada hari tersebut, Matahari berada di posisi
tepat di atas kiblat atau ka’bah. Hari itu akrab disebut istiwa’ a'zzam, yakni saat Matahari
berkedudukan di titik istiwa’ utama (zenith). Namun, fenomena tersebut
juga populer dengan sebutan rashdul qiblat. (Baca: Matahari Tepat di Atas Mekkah, Cek
Arah Kiblat 14-16 Juli!)
"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk
shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah), dan
sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka'bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan
(ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan."
(QS. Al-Baqarah : 149)
“Baitullah ( Ka'bah ) adalah kiblat bagi
orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi
orang-orang yang tinggal di Tanah Haram (Makkah) dan Makkah adalah qiblat bagi
seluruh penduduk bumi Timur dan Barat dari umatku” (HR. Al-Baihaqi)
“Jika kamu mendirikan shalat, maka
sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah
apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu ruku’ sampai sempurna, kemudian i’tidal
sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, kemudian duduk di antara dua
sujud sampai sempurna, kemudian sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian
itu setiap rekaat.” (HR. Abu Hurairah)
Arah
kiblat bagi umat islam menjadi sesuatu yang sangat penting, sebab dalam
melaksanakan sholat salah satu yang menjadi syarat sahnya sholat adalah
menghadap kiblat. Mengingat pentingnya hal tersebut, maka umat Islam pun
bersemangat belajar dan melakukan penelitian tentang bagaimana menentukan arah
kiblat yang tepat dan benar…
Berdasarkan kebiasaan yang berkembang di
masyarakat, terdapat beberapa kaidah yang sering digunakan untuk mengetahui
ketepatan arah kiblat. Diantaranya adalah menggunakan kompas kiblat, kompas sajadah atau peralatan canggih seperti pesawat GPS dan theodolite. Kini, melalui teknologi penginderaan jarak jauh yang disediakan cuma-cuma oleh Google via
internet menggunakan software Google Earth atau secara online disediakan oleh
situs-situs seperti Qibla Locator atau RHI Qibla Locator yang
memanfaatkan fasilitas Google Map Api (GMA) kita dengan mudah dapat mengetahui
arah kiblat sebuah bangunan masjid secara visual dan jelas. Namun demikian
penggunaan kaidah-kaidah tersebut sering terkendala beberapa masalah.
Kompas
belumlah dikatakan sebagai alat ukur yang presisi. Sebab dalam penggunaannya,
kompas sering mengalami kesalahan. Kesalahan tersebut berupa penyimpangan jarum
kompas baik oleh variasi magnetik secara global maupun atraksi magnetis secara
lokal oleh logam di sekitarnya. Belum lagi skala kompas biasanya terlalu kasar.
Sementara, penggunaan GPS dan theodolit untuk mengukur arah kiblat walaupun
bisa mendapatkan hasil yang lebih presisi namun dalam prakteknya kedua
peralatan tersebut tidak mudah didapatkan karena harganya yang cukup mahal.
Walaupun Google Earth maupun fasilitas qibla locator secara online dapat
membantu mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat
akurat, namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di lapangan
dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.
Lantas apakah bisa mengukur arah kiblat
secara presisi dengan biaya yang murah?
Jawabannya adalah BISA! Yaitu
dengan menggunakan fenomena astronomis yang terjadi pada hari yang disebut
sebagai yaumul rashdul qiblat atau hari meluruskan arah kiblat yaitu
hari saat saat Matahari tepat di atas Ka'bah. Fenomena yang terjadi 2 kali
selama setahun ini dikenal juga dengan istilah Transit Utama atau Istiwa
A'dhom.
Disamping merupakan contoh hasil pengakuratan arah kiblat pada suatu masjid dengan menggunakan bayang matahari pada yaumur roshdul qiblah...
Pengukuran kiblat pada yaumur roshdul qiblah dipercaya akurasinya sangatlah kuat. Lain halnya dengan alat-alat instan modern yang tersedia pada masa dewasa ini yang masih memerlukan koreksi.
Hal ini bisa difahami sebab akibat gerakan
semu Matahari yang disebut sebagai gerak tahunan Matahari. Ini diakibat selama
Bumi beredar mengelilingi Matahari sumbu Bumi miring 66,5˚ terhadap bidang
edarnya sehingga selama setahun Matahari terlihat mengalami pergeseran antara
23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Pada saat nilai azimuth Matahari sama dengan nilai
azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa
A'dhom yaitu melintasnya Matahari melewati zenit lokasi setempat.
Demikian halnya Ka'bah yang berada pada
koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT dalam setahun juga akan mengalami 2 kali
peristiwa Istiwa A'dhom yaitu setiap tanggal 27/28 Mei sekitar pukul 12.18
waktu setempat dan 15/16 Juli sekitar pukul 12.27 waktu setempat. Jika waktu
tersebut dikonversi maka di Indonesia peristiwanya terjadi pada 27/28 Mei pukul
16.18 WIB dan 15/16 Juli pukul 16.27 WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari
tepat di atas Ka'bah tersebut maka umat Islam yang berada jauh dan berada pada
jarak kurang dari seperempat keliling Bumi dapat menentukan arah kiblat secara
presisi menggunakan teknik bayangan Matahari.
Istiwa,
dalam bahasa astronomi adalah transit
yaitu fenomena saat posisi Matahari
melintasi di meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa
digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam
wilayah Zona Tropis yaitu wilayah sekitar garis Katulistiwa antara 23,5˚ LU
sampai 23,5˚ LS posisi Matahari saat istiwa selalu berubah, terkadang di Utara
dan disaat lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat tertentu
sebuah tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa A'dhom yaitu saat
Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di lokasi tersebut.
Teknik penentuan arah kiblat pada hari
Rashdul Qiblat sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di
Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain
juga sudah banyak yang menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak
memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang
diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus dengan panjang lebih kurang 1 meter
dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari.
Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa A'dhom tersebut maka arah
bayangan tongkat menunjukkan kiblat yang benar.
Satu hal penting yang harus kita perhatikan
adalah ketepatan JAM yang kita gunakan hendaknya sudah terkalibrasi dengan
tepat. Untuk mengetahui standar waktu yang tepat bisa digunakan tanda waktu
saat Berita di RRI, layanan telpon 103 atau menggunakan jam atom yang disediakan oleh layanan
internet.
Penentuan arah kiblat menggunakan fenomena
ini hanya berlaku untuk tempat-tempat yang pada saat peristiwa Istiwa A'dhom
dapat secara langsung melihat Matahari. Sementara untuk daerah lain di mana
saat itu Matahari sudah terbenam seperti Wilayah Indonesia Timur (WIT) praktis
teknik ini tidak dapat digunakan. Maka ada fenomena lain yang dapat digunakan
oleh daerah-daerah tersebut sehingga dapat mengetahui arah kiblat secara
presisi. Fenomena itu adalah saat Matahari berada tepat di bawah Ka'bah yaitu
saat Istiwa A'dhom terjadi di titik Nadir (Antipode) Ka'bah yang terjadi pada
setiap tanggal 13 Januari dan 27/28 November.
Nah,
pertanyaannya, bagaimana Matahari bisa mengalami situasi seperti itu?
Kuncinya terletak pada Bumi sendiri. Sebagai imbas dari masa lalunya yang demikian menakjubkan, terutama
setelah terjadinya hantaman protobumi dengan prototheia di masa bayi tata
surya, poros Bumi kita tak lagi tegak lurus, tetapi termiringkan. Cepatnya rotasi Bumi yang membuat area di sekeliling khatulistiwa menggelembung, sementara kawasan kutub-kutubnya memepat membuat Bumi turut diganggu oleh gravitasi planet-planet tetangga, khususnya si terang Venus dan si raksasa gas Jupiter. Akibatnya, kemiringan sumbu rotasi Bumi pun berubah-ubah secara gradual, yakni antara 22,1 hingga 24,5 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika.
Perubahan ini memiliki periodisitas 45.000 tahun dan menjadi bagian siklus Milankovitch yang turut mengontrol perubahan iklim Bumi hingga ke titik ekstremnya.
Besarnya kemiringan sumbu Bumi saat ini adalah 23,44ᵒ dan dalam 9.800 tahun ke depan akan terus menurun hingga mencapai nilai terendahnya, yakni 22,1ᵒ . Saat ini, kutub utara langit, yakni proyeksi sumbu rotasi bumi di langit bagian utara, mengarah tepat ke bintang Polaris di gugusan bintang Ursa Minor sehingga Polaris pun mendapat kehormatan menyandang status bintang kutub.
Namun, dalam 10.000 tahun mendatang kutub utara langit akan bergeser sedemikian rupa sehingga bakal sangat berdekatan dengan bintang al-Fawaris atau Rukh (delta Cygni) di gugusan bintang Cygnus. Pergeseran bintang kutub ini merupakan konsekuensi dari miringnya sumbu Bumi yang masih ditambah dengan gangguan gravitasi Venus dan Jupiter.
Teknik Penentuan Arah Kiblat
menggunakan Istiwa A'dhom :
- Tentukan masjid/musholla/langgar/rumah/ tempat lain yang akan diluruskan arah kiblatnya.
- Siapkan tongkat lurus atau benang berbandul sepanjang 1-2 m serta arloji yang sudah dikalibrasi dengan TV, radio atau telpon “103".
- Cari lokasi yang datar di dalam/sekitar masjid/musholla/langgar/rumah/tempat lain yang masih mendapatkan penyinaran matahari antara jam 16.00 – 16.30 WIB.
- Pasang tongkat secara tegak lurus dengan bantuan pelurus berupa benang berbandul atau gantung bandul di lokasi tersebut beberapa menit sebelum peristiwa Istiwa A’dham terjadi.
- Tunggu sampai saat Istiwa A’dham terjadi yaitu Ahad, 28 Mei 2012 pukul 16:18 WIB atau Ahad, 16 Juli 2013 pukul 16:27 WIB. Amatilah bayangan tongkat saat itu dan berilah tanda dengan menggunakan spidol atau benang kasur yang dipakukan atau alat lain yang dapat membuat garis lurus. Garis itu adalah arah kiblat yang benar.
- Gunakan benang, sambungan pada tegel lantai, atau teknik lain yang dapat meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita ukur sebenarnya adalah garis shaff yang posisinya tegak lurus (90°) terhadap arah kiblat. Maka setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk membuat garis shaff dapat dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan bantuan benda-benda yang memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek atau kertas karton tebal.
- Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Semoga cuaca cerah.
Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita, ibadah shalat yang
kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih dikabulkan. Amin.







